![]() |
| Sumber: Google |
“Begadang jangan begadang, kalau tiada artinya
Begadang boleh saja, kalau ada perlunya
Kalau terlalu banyak begadang, muka pucat karena darah
berkurang”
Penggalan lagu dari sang raja dangdut, Rhoma Irama, ini tetap
tak akan lekang oleh waktu, karena Begadang membawa setumpuk efek buruk untuk
kesehatan. Selain pucat karena darah berkurang, Begadang juga memiliki
konektivitas yang sangat negatif terhadap kemampuan otak manusia.
Peneliti dari Monash Institute, Australia, menemukan bahwa Begadang membuat konektivitas otak akan menjadi lebih lambat atau yang sering
dibilang lemot. Orang yang tidur pada jam subuh dan bangun pada saat matahari
terbit, reaksi otaknya cenderung lebih lemot daripada mereka yang tidur pada
waktu yang disesuaikan.
Hal ini terjadi karena semua bagian pada otak membutuhkan
waktu untuk mengsinkronisasi. Ini tentu akan membawamu pada fokus yang lebih buruk
dan reaksi yang lebih lambat bahkan delay.
Tentu, menahan rasa kantuk pada jam kerja sudah menjadi
gejala atau tanda yang sudah sangat sering kita temui atau malah kita alami
sendiri.
Para peneliti mengikutsertakan 38 orang partisan untuk
menganalisis pola tidur mereka. Mereka memakai pelacak aktivitas dan mengikuti
tes pengukuran kadar hormon. Bahkan, peneliti melakukan pemindaian terhadap
otak mereka saat sedang beristirahat.
Mereka juga mengukur tingkat fokus, perhatian serta kecepatan
reaksi pada momen yang berbeda dalam satu hari penuh. Dan yang pasti adalah
pertanyaan yang bisa jadi sudah terlintas di pikiranmu, ‘Sengantuk apa kamu
hari ini?’
Dan hasilnya adalah, orang yang suka Begadang memperoleh skor
yang baik pada saat tes dilakukan malam hari. Ini artinya, jam kerja yang
biasanya dimulai dari jam 09:00 tidak tepat untuk orang ini.
Karena diatas jam itu, konsentrasi mereka akan melemah dan
menunjukkan reaksi yang lamban yang tentu berpengaruh pada kinerja yang akan
memburuk. Sedangkan mereka yang tidak Begadang mendapat penilaian sebaliknya.
“Jika mengikuti waktu kerja normal, maka orang yang sering
begadang akan mengalami keadaan seperti jet lag,” demikian yang disimpulkan Elise
Facer-Childs, kepala penelitian, sebagaimana diberitakan Live Science yang
dikutip AkuratHealth.
Sumber: akurat.co

Komentar
Posting Komentar